Telah menceritakan kepada kami {Aswad bin ‘Amir} telah menceritakan kepada kami {Isro’il} dari {Ibrahim} yaitu Ibnu Muhajir, {Mujahid} dari {As-Sa’ib bin Abdullah} berkata; saya dibawa ke hadapan Nabi saw. dan bersamaku ‘Utsman bin ‘Affan dan Zuhair, maka mereka memuji (Rasulullah saw.) lalu Rasulullah saw. bersabda kepada mereka, kalian tidak usah memberitahu diriku tentang dia (As-Sa’ib), dia adalah sahabatku di Masa Jahiliyyah. (Mujahid Radhiyallahu’anhu) berkata; As-Sa’ib berkata; Ya wahai Rasulullah! Sebaik-baik sahabat adalah anda. (Rasulullah saw.) bersabda: “Wahai Sa’ib, lihatlah akhlak yang telah kamu perbuat di Masa Jahiliyyah, maka lakukanlah (akhlaq tersebut) dalam Islam; muliakanlah tamu dan hormatilah anak yatim serta berbuatlah baik kepada tetanggamu.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrahman bin Mahdi} telah menceritakan kepada kami {Sufyan} telah menceritakan kepada kami {Ibrahim} yaitu Ibnu Muhajir, dari {Mujahid} dari {orang yang pernah menuntun As-Sa’ib} dari {As-Sa’ib} dari Nabi saw. bersabda: “Shalat orang yang duduk seperti separuh shalatnya orang yang berdiri.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrahman bin Mahdi} telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Ibrahim} yaitu Ibnu Muhajir, dari {Mujahid} dari {penuntun As-Sa’ib}, dari {As-Sa’ib} dia berkata kepada Nabi saw., “Anda adalah serikatku, anda adalah sekutu yang paling baik. Anda tidak pernah melakukan madarot dan juga tidak hobi berdebat.”
Telah menceritakan kepada kami {Rauh} telah menceritakan kepada kami {Saif} berkata; saya telah mendengar {Mujahid} berkata; As-Sa’ib bin Abu As-Sa’ib Al ‘Abidi sekutu Rasulullah saw. pada Masa Jahiliyah, ketika Nabi saw. datang pada Fath Makkah, berkata; demi bapakku dan ibuku, anda tidak suka melakukan ‘madarot’ dan tidak suka berjidal.
Telah menceritakan kepada kami {Abdusshamad} telah menceritakan kepada kami {Tsabit} yaitu Abu Zaid, telah menceritakan kepada kami {Hilal} yaitu Ibnu Khabbab dari {Mujahid} dari {mantan budaknya}, menceritakan kepadanya bahwa dirinya termasuk orang yang membangun Ka’bah di Masa Jahiliyyah. Dia berkata; saya memiliki batu yang saya pahat dengan tanganku dan yang saya sembah selain Allah Tabaaroka Wa Ta’ala, lalu saya membawa susu kental, yang saya hisap sendiri kemudian saya tuangkan di atas batu tersebut hingga datang seekor anjing dan menjilatinya, lalu mengangkat satu kakinya dan mengencinginya. Kami membangun Ka’bah hingga kami sampai pada tempat Hajar Aswad. Tidak ada seorang pun yang melihat Hajar aswad, walau itu ternyata berada pada tengah-tengah batu kami, sebagaimana rambut seseorang, seseolah-olah hampir wajah seorang laki-laki tersebut. Maka ada seorang kepercayaan Quraish berkata ‘Kami yang akan menaruhnya.’ Yang lainnya berkata ‘Kami yang akan menaruhnya.’ Mereka berkata ‘Bagimana kalau kita mengangkat seorang hakim.’ Mereka berkata ‘Yang meletakkannya adalah orang yang pertama kali datang dari lorong ka’bah ini’. Kemudian hari datanglah Nabi saw., mereka berkata; ‘Telah datang kepada kalian orang yang dapat dipercaya’, lalu beliau meletakkan pada kainnya, lalu memanggil para tokoh mereka, mereka saling memegang ujung-ujungnya dan beliau saw. yang meletakkan di tengahnya.
Telah menceritakan kepada kami {‘Affan} telah menceritakan kepada kami {Wuhaib} telah menceritakan kepada kami {Abdullah bin ‘Utsman bin Khutsaim} dari {Mujahid} dari dari {As-Sa’ib bin Abu As-Sa’ib} dia bersekutu bersama Rasulullah saw. sebelum Islam dalam suatu jual beli. Tatkala Fathu Makkah, dia mendatangi beliau. Lalu Nabi saw. bersabda: “Selamat datang saudaraku dan sekutuku. Kamu tidak pernah melakukan madarot dan tidak hobi berdebat Wahai Sa’ib, kamu telah melakukan amalan pada Masa Jahiliyyah, yang hal itu adalah tidak diterima, namun hari ini bisa diterima. Amalan itu telah terjadi masa lalu, namun silahkan dilestarikan sekarang.
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin Ishaq} telah mengabarkan kepada kami {Ibnu Lahi’ah} dari {Muhammad bin Abdullah bin Malik} {Muhammad bin ‘Amr bin Atho’} berkata; saya melihat {As-Sa’ib} mencium bau bajunya, maka saya bertanya, kenapa itu? (As-Sa’ib Radhiyallahu’anhu) berkata; saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada wudhu kecuali karena bau angin atau terdengar suara.”
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin ‘Adam} telah menceritakan kepada kami {Abu Al Awash} dari {Syabib bin ghorqodah Al Bariqi} dari {Sulaiman bin ‘Amr bin Al Ahwash} dari {Bapaknya} berkata; saya menyaksikan Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu Haji Wada’, beliau bersabda: “Hari apa yang paling mulia?” lalu (Rasulullah saw.) menyebutkan dalam khutbahnya, hari penyembelihan (Yaitu Hari Idul Adha).”
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin Sa’id} telah menceritakan kepada kami {Al Musyma’il} berkata; telah menceritakan kepadaku {‘Amr bin Sulaim Al Muzni} berkata; saya telah mendengar {Rafi’ bin ‘Amr Al Muzani} berkata; saya telah mendengar Nabi saw. bersabda ketika saya masih bujang, “Al ‘Ajwah (kurma Nabi) beserta pohonnya berasal dari surga.”
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin Sa’id} telah menceritakan kepada kami {Hisyam} berkata; telah menceritakan kepadaku {Yahya bin Abu Katsir} dari {Abu Salamah} berkata; telah menceritakan kepadaku {Al Mu’aiqib} berkata; ditanyakan kepada Nabi saw. tentang mengusap kerikil di masjid (ketika sedang shalat) maka beliau saw. bersabda: “Jika kamu memang harus melakukannya, cukuplah sekali.”