Telah menceritakan kepada kami {Ya’qub} telah menceritakan kepada kami {Bapakku} dari {Ibnu Ishaq} berkata; telah menceritakan kepadaku {Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At Taimi} dari {Abu Al Haitsam bin Nashr bin Dahr Al Aslami} dari {Bapaknya} berkata; Ma’iz bin Khalid bin Malik, salah seorang dari kami kepada Rasulullah saw., lalu dia mengaku sendiri dia telah berzina, beliau menyuruh kami untuk merajamnya. Lantas kami keluar menuju tempat Bani Niyar, dan kami merajamnya. Tatkala Ma’iz merasakan sentuhan batu dia memberontak dengan keras, tatkala kami sudah selesai dan kami ke Rasulullah saw., kami sampaikan sikapnya. Lalu beliau bersabda: “Kenapa tidak kalian biarkan dia?”.
Telah menceritakan kepada kami {Ya’qub} telah menceritakan kepada kami {bapakku} dari {Ibnu Ishaq} berkata; telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ibrahim bin Al Harits At Taimi} dari {Abu Al Haitsam bin Nashr bin Dahr Al Aslami}, {bapaknya} menceritakannya, dia mendengar Rasulullah saw. bersabda pada saat perjalanannya menuju Khaibar kepada ‘Amir bin Al Akwa’, dia adalah paman Salamah bin ‘Amr bin Al Akwa’. Nama Al Akwa’ adalah Sinan. “Turunlah wahai Ibnu Al Akwa’, tantanglah dengan syair-syairmu”. (Nashr bin Dahr Al Aslami Radhiyallahu’anhu) berkata; lalu dia melantunkan syair kepada Rasulullah saw. ‘Demi Allah, seandainya tidak ada Allah, kita tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak bersedekah, dan tidak akan Shalat. Jika ada kaum yang berbuat kejahatan kepada kami, dan menghendaki fitnah, kami akan menolaknya. Maka turunkanlah ketenangan kepada kami dan mengokohkan kaki kami jika kami bertemu.
Telah menceritakan kepada kami {Husyaim} berkata; telah memberitakan kepada kami {Ya’la bin ‘Atho’} dari {Umarah bin Hadid} dari {Shakhr Al Ghamidi} berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Ya berilah berkah pada umatku pada pagi harinya. (Shakhr Al Ghamidi Radhiyallahu’anhudliyallahu’anhu) berkata; beliau jika mengutus pasukan perang atau tentara maka pada waktu menjelang siang. (Umarah bin Hadid Radhiyallahu’anhu) berkata; Shakhr adalah seorang pedagang, jika dia mengirim dagangannya pada waktu tersebut maka dia menjadi melimpah dan bertambah banyak hartanya.
Telah menceritakan kepada kami {‘Affan} telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} berkata; {Ya’la bin ‘Atho’} telah memberitakan kepada kami, berkata; saya telah mendengar {Umarah bin Hadid} seorang dari Bajilah, berkata; saya telah mendengar {Shakhr Al Ghamidi} seorang dari Al Azdi, Nabi saw. bersabda: “Ya berilah berkah pada umatku pada pagi harinya. (Shakhr Al Ghamidi Radhiyallahu’anhu) berkata; beliau jika mengutus pasukan perang, beliau lakukan pada waktu pagi hari. Dan Shakhr adalah seorang pedagang, dia memiliki banyak pelayan, dia mengutus para pelayannya, pada awal siang. (Umarah bin Hadid Radhiyallahu’anhu) berkata; lalu hartanya bertambah banyak, sampai tidak tahu harus di mana meletakkannya.
Telah menceritakan kepada kami {Yunus bin Muhammad} berkata; telah menceritakan kepadaku {Yahya bin Abdurrahman Al ‘Ashri} telah menceritakan kepada kami {Syihab bin ‘Ubbad} dia telah mendengar {sebagian utusan Abdul Qais}, mereka berkata menemui Rasulullah saw., mereka bertambah gembira dengan kedatangan kami. Tatkala kami sampai pada kaum, lalu kami diberi tempat duduk, lalu Nabi saw. menyambut kami, memanggil kami dan menemui kami. Lalu beliau bertanya, siapakah pemimpin kalian, lalu kami menunjuk dengan sepakat kepada Al Mundzir bin ‘Aid. Lalu Nabi saw. bersabda: “Apakah ini Al Asaj” dan itulah nama yang pertama kali dipakai karena suatu kali pernah terpukul ke wajahnya dengan kaki keledai. Kami menjawab, ya Wahai Rosulullah. Lalu setelahnya orang-orang meninggalkannya, dia mengikat unta-unta mereka, dan mengumpulkan perbekalan mereka, lalu mengeluarkan pakaiannya, lalu pakaian safarnya di ganti dengan pakaian yang paling bagus. Lalu menemui Nabi saw., ternyata beliau telah membentangkan kakinya dan bersandar. Tatkala Al Asyaj mendekati beliau, maka anggota kaumnya mempersilahkannya, lalu mereka berkata; sini Wahai Al Asyaj. Nabi saw. meluruskan duduknya dengan menggenggam kakinya, lalu bersabda: “Sini Wahai Al Asyaj”, lalu dia duduk di sebelah kanan Nabi saw. lalu beliau menyambutnya dengan sambutan yang baik dan menanyakan tentang daerahnya. Lalu (Al Asyaj Radhiyallahu’anhu) menyebutkan satu persatu nama-nama desa yang ada. Ada Ash-Shofa, Al Musyaqqor dan yang lainnya. Lalu berkata; demi bapakku dan ibuku Wahai Rosulullah, kenapa anda lebih tahu nama-nama desa kami dari kami? Maka beliau menjawab, saya telah melewati negeri kalian dan saya telah mengilinginya. Lalu beliau menemui orang-orang Anshor dan bersabda: “Wahai orang-orang Anshor, muliakanlah saudara kalian, mereka adalah orang yang sangat mirip dengan kalian dalam Islam, baik dalam hal syair maupun orangnya. Mereka telah masuk Islam dan taat tanpa rasa terpaksa dan tidak perlu diperangi. Karena jika ada sebuah kaum yang menolak masuk Islam niscaya akan di perangi. (utusan Abdul Qais) berkata; pada pagi harinya, beliau bertanya bagaimana menurut kalian sambutan dari saudara kalian atas kunjungan kalian, mereka menjawab, sambutan yang paling baik. Mereka menyiapkan tempat tidur kami, menyuguh dengan menu yang sangat enak. Pada malam harinya, mereka mengajari kami kitab Alloh Tabaroka Wa Ta’ala dan sunnah Nabi kami saw., lalu mereka menjadi cinta kepada Nabi saw. dan senang dengan sunnahnya. Lalu beliau menemui kami satu-satu dan kami menyebutkan apa yang telah kami pelajari dan kami mengetahuinya. Di antara kami ada yang mengetahui bacaan tahiyyat, ummul kitab, satu surat, dua surat dan sunah-sunah yang lainnya. Lalu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: “Apakah kalian membawa makanan untuk bekal safar kalian?” maka kaum itu menjadi sangat senang, lalu mereka bersegera menuju kendaraan mereka, setiap orang mendapatkan satu kantung kurma, lalu mereka meletakkannya di pelana mereka dan memberi tanda dengan pelepah kurma pada tangannnya. Yang dijadikan gandengan di atas tangannya atau di bawah kedua tangannya. Lalu beliau bertanya, apakah inikah di namakan ta’dludl (jenis kurma)? Kami menjawab, Ya. Lalu beliau menunjuk pada kantong yang lain, apakah ini yang kalian namakan shorfan (salah satu jenis kurma)? Kami menjawabnya, Ya. Lalu beliau menunjuk pada yang lainnya dan bertanya, apakah yang dinamakan Al burni (salah jenis kurma unggulan)? Kami menjawab, ya. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Itu adalah sebaik-baik kuma kalian dan yang paling bermanfaat”. (utusan Abdul Qais) berkata; lalu kami pulang dan kami banyak menanamnya dan kami sangat menyukainya sampai kebanyakan kurma adalah kurma Al burni. Al Asyaj berkata; Wahai Rosulullah, daerah kami adalah daerah yang sangat berat dan tidak cocok hawanya, jika kami jika tidak meminum minuman itu maka akan berubahlah kulit kami dan membesarlah perut kami. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah meminum dalam duba’ (tempat minum yang terbuat dari sejenis labu), hantam (bejana yang terbuat dari tanah, rambut dan darah) dan naqir (pohon yang di jadikan bejana), namum minumlah di gelas yang di tempelkan pada mulutnya. Lalu Al Asyaj berkata kepada beliau, demi bapak dan ibuku Wahai Rasulullah, berilah keringanan kepada kami pada hal ini, lalu dia memberi isyarat dengan kedua telapak tangannya, lalu bersabda: “Wahai Al Asyaj, jika saya memberi keringannan pada hal itu dan memberi isyarat dengan kedua telapak tangannya begini, cara meminummu lalu beliau memperlihatkan kedua tangannya dan membentangkannya, yaitu melebarkannya sampai jika salah seorang kalian telah meminumnya. Lalu beliau berdiri menuju anak pamannya dan memukul dengan keras pada betisnya dengan pedang. Di dalam kelompok utusan terdapat seorang laki-laki dari Bani ‘Adlol yang bernama Al Harits telah dipukul betisnya karena ada minuman mereka yang ada pada rumah mereka lalu dia mensifatinya dengan syair, pada seorang wanita dari mereka. Lalu sebagian penghuni rumah dan memukul betisnya dengan pedang. Al Harits berkata; tatkala saya mendengar dari Rasulullah saw., lalu saya menurunkan pakaianku dan saya menutup bekas pukulan namun Alloh Tabaroka Wa Ta’ala telah menampakkannya.
Telah menceritakan kepada kami {Waki’ bin Al Jaroh} dan {Abdurrahman bin Al Mahdi} dari {Sufyan} dari {Abu Hazim} dari {Sahl bin Sa’d As Sa’idi} berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Berperang satu pagi atau satu sore hari di jalan Allah Azzawajalla itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya”.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; Telah menceritakan kepada kami {Bisyr bin Al Mufadldlol} berkata; telah menceritakan kepada kami {Abu Hazim} dari {Sahl bin Sa’d} berkata; saya telah melihat beberapa orang beristirahat dan makan siang pada Hari Jumat.
Telah menceritakan kepada kami {Waki’} dari {Sufyan} dari {Abu Hazim} dari {Sahl bin Sa’d} berkata; saya telah melihat beberapa orang yang mengikatkan sarung mereka pada leher mereka, seperti anak kecil karena sempitnya sarung di belakang Rasulullah saw. pada saat Shalat. Lalu ada seorang yang berkata; Wahai para wanita, janganlah kalian mengangakat kepala kalian sampai kaum laki-laki mengangkatnya.
Telah menceritakan kepada kami {Abu Kamil Al Jahdair, Fudhail bin Husain} dia mendiktekannya kepadaku dari kitabnya yang asli. Berkata; telah menceritakan kepada kami {Umar bin ‘Ali} berkata; telah menceritakan kepada kami {Abu Hazim} berkata; saya telah mendengar {Sahl bin Sa’d As Sa’idi} berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Berperang satu pagi atau satu sore hari di jalan Allah AzzaWaJalla itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Sungguh tempat cemeti salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia seisinya”
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Sufyan bin ‘Uyainah} dari {Abu Hazim} dari {Sahl bin Sa’d} berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Tempat cemeti salah seorang dari kalian di surga itu lebih baik daripada dunia seisinya”