Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku {Muhammad bin Bakr} berkata; telah menceritakan kepada kami {Abdurrahman bin Abdullah bin Dzakwan} dari {Bapaknya, Abu Az Zinad} berkata; saya melihat seorang laki-laki yang bernama {Rabi’ah bin ‘Abbad Ad-Dili} berkata; saya melihat Rasulullah saw. melewati lorong-lorong pasar Dzul Majaz, mereka mengikutinya dan berkata; ini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. (Rabi’ah bin ‘Abbad) berkata; dan ada laki-laki juling yang wajahnya cerah memiliki dua kepang rambut membuntutinya di lorong-lorong Dzil Majaz dan berkata ‘Dia adalah orang murtad lagi pendusta.’ Saya bertanya ‘Siapakah orang itu?. Mereka menjawab, itu adalah pamannya, Abu Lahab.
Telah menceritakan kepada kami {Sa’id bin Yahya bin Sa’id Al Qurasyi} berkata; telah menceritakan kepada kami {bapakku} dari {Ibnu Ishaq} berkata; telah menceritakan kepadaku {Husain bin Abdullah} dari {Rabi’ah bin ‘Abbad Ad-Dili} dari {orang yang telah menceritakannya} dari {Zaid bin Aslam} dari {Rabi’ah bin ‘Abbad} berkata; demi Allah saya akan menceritakannya, dia (Muhammad) berkeliling ke rumah-rumah di Mina, ketika itu saya masih muda bersama bapakku, sedang di belakangnya ada seorang yang wajahnya cerah, juling, memiliki dua kepang. Tatkala Rasulullah saw. berhenti pada suatu kaum, beliau bersabda: “Saya adalah utusan Allah, saya perintahkan kalian untuk menyembah-Nya dan jangan kalian menyekutukAn Nya dengan sesuatupun. Anehnya, orang yang di belakangnya berkata; orang ini menyeru kalian agar meninggalkan agama bapak kalian dan kalian meninggalkan Lata dan ‘Uzza dan para pemimpin kalian dari perkampungan Bani Malik bin Uqais kepada ajaran yang dibawanya berupa hal baru dan kesesatan. Saya berkata kepada bapakku, siapakah orang ini?. Dia menjawab, pamannya Abu lahab, Abdul Al ‘Uzza bin Abdul Muthallib.
Telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Harun} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Al Hajjaj bin Arthah} dari {Muhammad bin Sulaiman bin Abu Hatsmah} dari {Sahal bin Abu Hatsmah} berkata; saya melihat {Muhammad bin Maslamah} mengintip seorang wanita dengan matanya. Saya bertanya, kamu mengintipnya padahal kamu adalah seorang sahabat Muhammad saw.? lalu dia berkata; ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Jika Allah Azzawajalla menjadikan hati seseorang tertarik untuk melamar seorang wanita, tidak masalah ia melihatnya.”
Telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Harun} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Hammad bin Salamah} dari {‘Ali bin Zaid} dari {Abu Burdah} berkata; saya melewati Rabadzah, di sana ada kemah, saya bertanya, Kemah ini milik siapa”? Ada yang berkata; milik {Muhammad bin Maslamah}, maka saya pun meminta izin dan masuk kemah itu. Saya berkata; “Semoga Allah merahmatimu, engkau mempunyai kedudukan dalam permasalahan ini yang apabila engkau keluar bersama manusia, engkau dapat memberi perintah dan melarang sesuatu”. Lalu Muhammad bin Maslamah berkata; Rasulullah saw. bersabda: Sungguh akan terjadi suatu fitnah, perpecahan dan perbedaan, jika hal itu terjadi, datanglah membawa pedangmu ke gunung Uhud dan pukullah gunung itu dengan pedangmu, pecahkanlah panahmu serta potonglah, tinggalkan dan kemudian duduklah kamu di rumah, sampai datanglah tangan yang berdosa atau Allah mengampuni dosamu. Lalu lakukan apa yang beliau perintahkan. Kemudian saya meminta diturunkanya pedang yang tergantung di tiang kemah dan mengeluarkanya dari sarungnya, pedang itu terbuat dari kayu, maka dia berkata: “Aku telah melaksanakan apa yang Rasulullah saw. perintahkan, maka aku ambil pedang itu untuk menakuti manusia, ternyata itu adalah pedang dari kayu.” (Ahmad bin Hanbal Radhiyallhu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Mu’amal} berkata; telah bercerita kepada kami {Hammad} dari {‘Ali bin Zaid} dari {Abu Burdah’} dia berkata; Aku melewati Rabadzah, ketika itu ada sebuah kemah besar, maka dia berkata; lalu menyebutkannya, berkata; “Sungguh akan terjadi fitnah dan perpecahan, maka pukullah gunung Uhud dengan pedangmu”. (Ahmad bin Hanbal Radhiyallhu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {‘Affan} berkata; telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Salamah} telah mengabarkan kepada kami {‘Ali bin Zaid} dari {Abu Burdah bin Musa} dia berkata; Aku melewati tempat Rabazhah, ternyata ada sebuah kemah besar”, maka aku berkata; “Sebagaimana telah disebutkan dalam hadis”
Telah menceritakan kepada kami {Al Qasim bin Malik Al Muzani, Abu Ja’far} berkata; telah mengabarkan kepadaku {Jamil bin Zaid} berkata; saya menemani seorang guru dari Anshar, yang disebutkan bahwa dia adalah salah seorang sahabat yang bernama {Ka’ab bin Zaid} atau Zaid bin Ka’ab, dia menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah saw. menikahi seorang perempuan Bani Ghiffar, ketika beliau menemuinya dan meletakkan bajunya serta duduk di atas tempat tidur, beliau melihat bagian badan perempuan tersebut di sekitar pinggul berwarna putih, maka beliau bangkit dari tempat tidur dan berkata; “Ambillah bajumu” dan beliau tidak mengambil apapun dari yang telah beliau berikan kepadanya”.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallhu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Yazid} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Jarir bin Hazim} dari {Muhammad bin Abu Ya’qub} dari {Abdulllah bin Syadad} dari {bapaknya} berkata; Rasulullah saw. keluar menemui kami dengan menggendong Hasan atau Husain antara dua waktu shalat, zhuhur dan ashar. Nabi saw. maju ke depan dan meletakkan (Hasan dan Hasan) lalu mulai bertakbir untuk shalat, dan beliau bersujud ketika dalam shalatnya dengan sujud yang begitu lama.(Syadad) berkata; “Saya mengangkat kepalaku, terlihat anak kecil itu sedang berada di punggung Rasulullah saw., maka saya kembali lagi untuk bersujud, ketika Rasulullah saw. selesai dari shalatnya, orang-orang berkata; ‘Wahai Rasulullah, anda tadi sujud waktu dalam shalat dengan begitu lama, sehingga kami mengira jangAn jangan terjadi suatu hal atau telah diturunkan wahyu kepadamu”. Beliau bersabda: “Bukan karena itu, tapi ketika aku sujud, anakku (maksudnya cucuku) sedang menaikku, saya tidak mau menyegerakannya sampai cucuku turun dariku”.
Telah menceritakan kepada kami {Sa’id bin Manshur} telah menceritakan kepada kami {Al Mughirah bin Abdurrahman} dari {Abu Zinad} berkata; telah menceritakan kepadaku {Muhammad bin Hamzah Al Aslamy} dari {bapaknya} Rasulullah saw. menjadikannya panglima suatu pasukan. Lalu saya berangkat, maka beliau bersabda: “Jika kalian menemukan fulan, maka bakarlah dia dengan api”. Ketika saya berangkat, beliau memanggilku lagi seraya bersabda: “Kalau kalian menemukannya, maka bunuhlah, karena tidak boleh menyiksa dengan api kecuali pencipta api”.
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Bakr} telah mengabarkan kepada kami {Ibnu Juraij} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Ziyad} yaitu Ibnu Saad, {Abu Zinad} berkata; telah menceritakan kepadaku {Hanzhalah bin ‘Ali} dari {Hamzah bin ‘Amr Al Aslami} seorang sahabat Nabi saw. menceritakannya bahwa Rasulullah saw. mengutusnya bersama beberapa orang seorang laki-laki dari ‘Udzrah, lalu beliau bersabda: “Jika mampu maka bakarlah, bakarlah dia dengan api”. Lalu mereka berangkat, setelah mereka meninggalkan beliau, beliau memanggil mereka lagi, atau mengutus kepada mereka, dan meminta mereka untuk kembali dan bersabda: “Jika kalian bisa, maka bunuhlah, tapi jangan kalian bakar dengan api. Karena yang berhak menyiksa dengan api adalah pencipta api” (Ahmad bin Hanbal Radhiyallhu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Abdurrazzaq} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Ibnu Juraij} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Ziyad} {Abu Zinad} mengabarinya, berkata; telah mengabarkan kepadaku {Hanzhalah bin ‘Ali Al Aslami} {Hamzah bin ‘Amr Al Aslami} salah seorang sahabat Nabi saw. menceritakannya bahwa Rasulullah saw. mengutusnya bersama beberapa orang dalam sebuah ekspedisi untuk menangkap seseorang, lalu menyebutkan secara makna.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallhu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata; telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Qatadah} dari {Sulaiman bin Yasar} dari {Hamzah bin ‘Amr Al Aslami} dia bertanya Rasulullah saw. tentang berpuasa pada saat perjalanan, maka (Rasulullah saw.) bersabda: “Terserah kamu untuk berpuasa atau tidak”.
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} berkata; telah menceritakan kepada kami {Sa’id} dari {Qatadah} dari {Sulaiman bin Yasar} dari {Hamzah bin ‘Amr Al Aslami} dia melihat seorang laki-laki di atas unta mengikuti orang yang berjalan sewaktu di Mina dan Nabiyullah saw. menyaksikan, laki-laki tersebut berseru, “Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini (Tasyriq) karena hari tersebut adalah hari makan dan minum”. Qatadah berkata; “(Hamzah bin ‘Amr Al Aslami) menyebutkan bahwa laki-laki yang menyerukan tersebut adalah Bilal”.