(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Qurran bin Tammam} dari {‘Ikrimah Al Yamami} dari {‘Iyas bin Salamah} dari {Bapaknya} berkata; saya pernah bepergian bersama Abu Bakar dalam perang melawan Hawazin lalu saya mendapatkan rampasan berupa seorang wanita, lalu Rasulullah saw. memintanya dan beliau mengirimkannya ke Makkah dan digunakan untuk menebus beberapa tawanan muslimin.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Al Dhahak bin Makhlad} berkata; telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah bin Al Akwa’} berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.”
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Mas’adah} dari {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah bin Al Akwa’} Sesungguhnya Nabi saw. memerintahkan seorang laki-laki dari Aslam untuk mengumumkan hari Asyura pada khalayak manusia: barangsiapa yang berpuasa maka sempurnakanlah puasanya dan barangsiapa yang telah makan, maka tahanlah untuk tidak makan lalu sempurnakanlah puasa.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Mas’adah} dari {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah} sesungguhnya dia pernah meminta ijin kepada Rasulullah saw. untuk pulang ke pelosok desa dan beliau mengizinkannya.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Mas’adah} dari {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah bin Al Akwa’} berkata; Aku berbaiat kepada Rasulullah saw. bersama orang-orang pada waktu di Hudaibiyah kemudian aku duduk agak menjauh, ketika orang-orang berpencar dari kerumunan meninggalkan Rasulullah saw., beliau bertanya, “Wahai Ibnu Akwa’, apakah engkau tidak berbaiat? Maka aku berkata; Aku sudah wahai Rasulullah, maka beliau bersabda: “Berbaitlah lagi!” saya bertanya, berbaiat untuk apa wahai Rasulullah? beliau bersabda: “Baiat untuk menyongsong kematian.”
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Mas’adah} dari {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah} berkata; Saya duduk bersama Nabi saw., kemudian didatangkan kepada beliau jenazah. Beliau bertanya, Apakah dia meninggalkan hutang? mereka berkata; Tidak. Beliau bertanya lagi, Apakah meninggalkan harta. Mereka menjawab, Tidak. (Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu’anhu) berkata; maka beliau menshalatinya, kemudian didatangkan kembali jenazah yang lain, lalu kembali beliau bertanya, Apakah dia meninggalkan hutang? mereka berkata; Tidak. Beliau bertanya, apakah dia meninggalkan harta?. Mereka berkata; Ya, dia meninggalkan uang sebanyak tiga dinar. (Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu’anhu) berkata; lalu beliau berkata dengan jarinya tiga keping. Lalu didatangkan kepadanya jenazah yang ketiga, kemudian beliau bertanya, Apakah dia meninggalkan hutang?. Mereka berkata; Ya. Beliau bertanya, apakah dia meninggalkan harta? mereka berkata; Tidak. (Rasulullah saw.) bersabda: “Shalatilah teman kalian”, lalu ada seseorang dari Anshar yang berkata; saya yang akan membayarnya, Wahai Rasulullah, maka beliau pun menshalatinya.
Telah menceritakan kepada kami {Hammad} dari {Yazid} dari {Salamah} berkata; ‘Amir adalah seorang penyair, lalu dia memberi semangat saat mempercepat untanya dengan berkata: Ya Allah, kalaulah bukan karena Engkau, kami tidaklah mendapat petunjuk, kami tidak pernah bersedekah, kami tidak akan pernah shalat, ampunilah apa yang kami lakukan sebagai tebusan-Mu. Teguhkanlah kaki-kaki kami ketika kami saling bertemu, dan turunkanlah ketenangan atas kami. Sesungguhnya kami jika kami dipanggil kami akan mendatanginya, dengan panggilan, mereka menolong kami. Lalu Rasulullah saw. bersabda: “Siapakah orang yang membaca tadi?” Mereka menjawab, Ibnu Al Akwa’, beliau bersabda: “Semoga Allah, merahmatinya”. (Yazid bin Salamah Radhiyallahu’anhu) berkata; lalu ada seorang laki-laki yang berkata; ‘Pasti dia mendapat kerahmatan Wahai Rasulullah’, Aduhai sekiranya anda tidak menangguhkan do’a sehingga kami bisa berteman dengannya.’ (Yazid bin Salamah Radhiyallahu’anhu) berkata; selanjutnya Amir terkena musibah saat pergi untuk membunuh orang Yahudi, dan terkena ujung pedangnya sendiri pada pangkal kedua lututnya. Lalu orang-orang berkata; ‘Sia-sialah amalannya, dia telah bunuh membunuh dirinya.’ (Yazid bin Salamah Radhiyallahu’anhu) berkata; lalu saya temui Rasulullah saw. setelah sampai di Madinah, waktu itu beliau sedang di masjid. Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mereka mempunyai pendapat bahwa ‘Amir terhapus amalannya.’ Beliau bertanya, ‘Siapa yang mengatakannya?.’ Saya menjawab, ‘Beberapa orang dari kalangan Anshar, di antara mereka ada si ‘A’ dan si ‘B’. (Rasulullah saw.) bersabda: “Telah dusta orang yang mengatakannya. Bahkan dia memiliki dua pahala -sambil beliau mendemontrasikannya dengan kedua jarinya–, dia dalam keadaan jihad dan mujahid, dan sangat jarang orang arab yang mempunyai sifat mengagumkan seperti itu. Saudaramu sangat menginginkan engkau meneladaninya.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Shafwan bin ‘Isa} berkata; telah mengabarkan kepada kami {Yazid} yaitu Ibnu Abu ‘Ubaid, dari {Salamah} sesungguhnya Nabi saw. memerintahkan juru-juru siarnya pada hari asyura, bahwa barangsiapa yang telah makan pada waktu paginya maka tahanlah, dan siapa yang belum makan sempurnakan puasanya.
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Shafwan} dari {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah} berkata; Ketika kami datang ke Khaibar, Rasulullah saw. melihat api yang dinyalakan, maka beliau bertanya ‘Untuk apa api ini dihidupkan?. Mereka menjawab, “Untuk memasak daging keledai” maka beliau bersabda: “Pecahkanlah bejana dan buanglah semua isinya”! (Salamah bin Al Akwa’) berkata; seorang laki-laki berdiri dan berkata; Wahai Rasulullah, apakah kami buang isinya dan kemudian kami mencucinya? beliau menjawab, ‘Ya.’
(Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu’anhu) berkata; telah menceritakan kepada kami {Maki bin Ibrahim} berkata; telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Abu ‘Ubaid} dari {Salamah bin Al Akwa’} sesungguhnya dia mengabarinya, berkata; saya keluar dari Madinah untuk pergi ke hutan sehingga ketika aku sampai di tengah hutan, aku melihat budak milik ‘Abdurrahman bin ‘Auf, aku berkata; ‘Celakalah kamu, apa urusanmu di sini? lalu dia berkata; ‘Unta-unta milik Rasulullah saw. telah dicuri?.’ lalu saya bertanya, ‘Siapa yang mencurinya?. Dia berkata; Bani Ghatafan dan dan Fazarah. (Salamah bin Al Akwa’ Radhiyallahu’anhu) berkata; kemudian aku berteriak sebanyak tiga kali sehingga terdengar oleh penduduk Madinah dan aku meminta pertolongan ‘Wahai seseorang, Wahai seseorang tolonglah aku, tolonglah aku?. Lalu saya berjalan dengan cepat sehingga saya dapat menyusul mereka dan mereka telah menjarah unta-unta itu. Lalu saya melempari mereka dan mengatakan kepada mereka: saya adalah Ibnu Al Akwa’ dan hari ini adalah hari untuk memanah. Saya berhasil menyelamatkan unta-unta itu dari mereka, sebelum mereka meminumnya, lalu saya menghampirinya dan saya menggiringnya. Rasulullah saw. bertemu denganku, lalu saya sampaikan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang dalam keadaan haus dan saya telah memanah mereka sebelum mereka meminumnya, pergilah untuk membuntuti mereka.’ Beliau bersabda: Wahai Ibnu Al ‘Akwa’, kamu telah memenangi maka berbuat baiklah, karena kaum itu mempunyai kebiasaan menjamu tamunya dengan baik di kaumnya.’