Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dan {Hajjaj} telah mengabarkan kepadaku {Syu’bah} dari {Al Hakam} ia berkata, saya mendengar {Abu Juhaifah} berkata; “Pada waktu tengah hari, Rasulullah saw. berangkat ke Bathhaa`, kemudian beliau berwudhu dan shalat Zhur dua raka’at lalu shalat Ashar dua raka’at. Sedangkan di depan beliau terdapat tombak yang ditancapkan.” Kemudian {‘Aun} menambahkan menambahkan di dalamnya; dari {bapaknya yakni Abu Juhaifah}; “Di belakang tombak itu, lewatlah seekor Himar dan seorang wanita.” Hajjaj berkata di dalam haditsnya: “Kemudian para sahabat memegang tangan beliau dan mengusapkannya pada wajah-wajah mereka. Dan saya pun memegang tangan beliau dan meletakkannya pada wajahku, ternyata aku merasakan tangan beliau lebih sejuk daripada salju, dan lebih wangi dari wanginya Al Misk.”
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {‘Aun bin Abu Juhaifah} dari {bapaknya} bahwa ia membeli seorang budak yang berprofesi tukang bekam. Lalu ia menyuruh untuk mengambil alat bekamnya kemudian memecahkannya. Maka saya pun bertanya kepada, “Apakah kamu memecahkannya?” ia menjawab, “Ya, sesungguhnya Rasulullah saw. melarang Tsaman Ad Dam (bayaran dari hasil bekam), hasil penjualan anjing, pendapatan wanita pelacur. Dan beliau melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato serta melaknati pemakan riba dan orang yang memberi makan dari hasil riba, kemudian beliau juga melaknat tukang gambar.”
Telah menceritakan kepada kami {Sulaiman bin Dawud} dan {Abu Kamil} keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami {Zuhair} Telah menceritakan kepada kami {Abu Ishaq} dari {Abu Juhaifah} ia berkata; Saya melihat Rasulullah saw. dan beliau memiliki ini -ia memberi isyarat pada rambut yang tumbuh antara di bawah bibir dan dagunya yang telah beruban-. Kemudian ditanyakan kepada Abu Juhaifah (yakni mengenai shalat musafir), “Dan seperti siapa kamu pada hari itu?” ia menjawab, “Saya meruncingkan sebatang kayu dan menancapkannya.”
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ubaid} Telah menceritakan kepada kami {Al A’masy} dari {Ibnu Abu Khalid} dari {Wahb As Su`ali} ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Dan aku diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti jarak dari sini ke sini, dan hampir saja ia akan mendahuluinya.” Maka Al A’masy menenpelkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dan sekali waktu, Muhammad berkata; “Hampir saja ia mendahuluiku.” Dan telah menceritakannya kepada kami {Abul Jawwab} Telah menceritakan kepada kami {Ammar} dari {Al A’masy} dari {Abu Khalid} dari {Jabir bin Abdullah} ia berkata; Saya pernah melihat Rasulullah saw. dan beliau bersabda: “Saya diutus, sementara jarak antara aku dan hari kiamat adalah seperti ini dari sini.” Dan telah berkata {Isa bin Yunus} dari {Jabir bin Samurah As Suwa`}. Telah berkata bapakku; telah menceritakannya kepada kami {Ali bin Bahr} darinya, yakni Samurah, ia berkata; Saya melihat Rasulullah saw. memberikan isyarat dengan jari tangannya.
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Bukair bin Atha`} ia berkata, saya mendengar {Abdurrahman bin Ya’mar} berkata; Saya mendengar Rasulullah saw. ditanya oleh seorang laki-laki mengenai haji di Arafah. Maka beliau menjawab: “Haji itu adalah pada hari Arafah -atau Arafaat-, barangsiapa yang mendapati Lailah Jami’ (malam di Muzdalifah) sebelum shalat Subuh, maka hajinya telah sempurna. Hari-hari di Mina ada tiga hari, barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya.”
Telah menceritakan kepada kami {Waki’} Telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Bukair bin Atha` Al Laitsi} ia berkata, saya mendengar {Abdurrahman bin Ya’mar Ad Daili} berkata; Saya telah menyaksikan Rasulullah saw. wukuf di Arafah. Kemudian orang-orang dari penduduk Najd mendatanginya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah Haji itu?” beliau menjawab: “Haji itu intinya adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang datang sebelum shalat Subuh, pada Lailah Jami’ (malam Muzdalifah), maka hajinya telah sempurna. Hari-hari Mina adalah tiga hari, barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya.” Kemudian seorang laki-laki mengikuti di belakangnya dan menyerukan hal itu.
Telah menceritakan kepada kami {Rauh} Telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Bukair bin Atha` Al Laitsi} ia berkata, saya mendengar {Abdurrahman bin Ya’mar Ad Daili} ia berkata; Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, yang salah seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang haji, maka beliau menjawab: “Haji itu adalah pada hari Arafaat atau Arafah. Barangsiapa yang mendapatkan Lailah Jam’i (malam hari di Muzdalifah) sebelum ia menunaikan shalat Subuh, maka ia telah mendapatkan haji. Hari-hari di Mina adalah tiga hari, barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, Maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), Maka tidak ada dosa pula baginya.”
Telah menceritakan kepada kami {Waki’} telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Abdul Malik bin Umair} berkata: “Aku mendengar {Atiyyah Al Quradiyyi} berkata: “Bahwa pada hari ditaklukkan bani Quraidloh dihadapkan tawanan dari mereka, maka yang telah tumbuh rambut kemaluannya (baligh, pent) maka dia dibunuh, dan barang siapa yang belum tumbuh rambut kemaluannya, maka dibiarkan, dan aku adalah termasuk yang belum tumbuh rambut kemaluannya, lalu dibiarkannya oleh beliau”
Telah menceritakan kepada kami {Ali Bin ashim} Telah mengabarkan kepada kami {Al-Mughirah} dari {Syibak} dari {‘Amir} telah mengabarkan kepadaku {Fulan Atstsaqafi} mengatakan, kami bertanya Rasulullah saw. tentang tiga perkara dan beliau sama sekali tidak memberi kami keringanan (rukhsah, dispensasi) dalam ketiga-tiganya. Pernah kami meminta beliau untuk mengembalikan Abu Bakrah kepada kami, ia sebelumnya adalah seorang budak, namun beliau menolak seraya berujar “Oh tidak, ia adalah orang yang dibebaskan Rasulullah saw.! Kemudian kami meminta beliau untuk memberi keringanan kepada kami saat musim dingin, sebab ketika itu pemukiman kami adalah pemukiman yang dingin, maksudnya ketika bersuci, namun beliau sama sekali tidak memberi keringanan, dan kami meminta beliau untuk memberi keringanan perihal duba’ (rendaman anggur yang dibuat dalam kulit labu), dan beliau sama sekali tidak memberi keringanan kepada kami.
Telah menceritakan kepada kami {Waki’} Telah menceritakan kepada kami {Aban bin Abdullah Al Balhili} Telah menceritakan kepadaku {paman-pamanku} dari {Shakhr bin Abdullah} Bahwa kaum dari bani Sulaim lari dari tanah kediaman mereka ketika Islam datang. Maka saya pun mengambil tanah milik mereka. Setelah itu, mereka masuk Islam lalu mengadukan permasalahan tersebut kepada Nabi saw., maka beliau pun mengembalikan semua tanah mereka dan bersabda: “Jika seseorang telah memeluk Islam, maka dialah yang paling berhak atas tanah dan hartanya.”