Telah menceritakan kepada kami {Yazid} dari {Hajjaj} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; ‘Sesungguhnya Rasulullah saw. menggabungan antara dua shalat dalam bepergian.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6408
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Harun} telah mengkhabarkan kepada kami {Hammam} dari {Qotadah} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan.” Kesempatan lain Yazid berkata: “dengan tidak isrof (berlebihan), dan tidak sombong.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6409
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid} telah mengkhabarkan kepada kami {Muhammad bin Ishaq} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; Rasulullah saw. mengajari kami beberapa kalimat untuk kami baca ketika hendak tidur: ” Dengan Asma Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya dan adzab-Nya, serta dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan kedatangannya.” Dia berkata; Abdullah bin ‘Amru mengajarkan kalimat ini pada anaknya yang telah baligh untuk dibacanya ketika hendak tidur, dan terhadap anaknya yang masih kecil, ia menyuruhnya untuk mulai menghafalnya, ia menuliskan untuknya lalu dikalungkan di lehernya.
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6410
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid} telah mengkhabarkan kepada kami {Hajjaj} dari {‘Atho`} dari {Jabir} dan dari {Abu Az Zubair} dari {Jabir} dan dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; “Rasulullah saw. menentukan miqoth bagi penduduk Madinah dari Dzulhulaifah, dan bagi penduduk Syam dari Juhfah, dan bagi penduduk Yaman dan Tihamah dari Yalamlam, dan bagi penduduk Tho`if yakni; Najed dari Qornul Manazil, dan bagi penduduk Irak dari Dzatu ‘Irq.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6411
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid} dari {Muhammad bin Rasyid} dari {Sulaiman bin Musa} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak boleh diterima persaksian seorang lelaki pengkhianat dan seorang wanita pengkhianat.” Dan beliau saw. juga menolak (tidak menerima) persaksian seorang peminta, pembantu dan orang yang menjadi tanggungan oleh sebuah keluarga, dan beliau memperbolehkannya atas orang-orang selain mereka.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6412
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid} berkata, telah mengkabarkan kepada kami {Muhammad bin Rasyid} dari {Sulaiman bin Musa} dari {‘Amru bin Syu`aib} dari {Bapaknya}, dari {Kakeknya}, ia berkata; “Nabi saw. memutuskan bahwa seseorang setelah kematian bapaknya (tuan yang menggauli ibunya sehingga ia lahir), yang oleh para ahli warisnya (anak-anak sang tuan) ia diikutkan sebagai atau termasuk ahli waris, (beliau memutuskan); jika ia lahir dari seorang wanita yang merdeka, atau dari seorang budak yang dimilikinya (tuan), maka anak tersebut bisa diikutkan oleh ahli waris termasuk ahli waris, dan jika anak yang lahir itu dari seorang wanita yang merdeka atau budak yang telah dizinainya, maka anak tersebut tidak bisa diikutkan untuk menjadi ahli waris. Dan meskipun bapaknya (tuan dari ibunya) tersebut tetap mengakuinya sebagai anak, ia tetap sebagai anak ibunya sendiri, baik ia lahir dari seorang wanita merdeka atau seorang budak”.
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6413
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Yazid bin Harun} telah mengkhabarkan kepada kami {Al Hajjaj bin Artho`ah} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai keluarga yang mana apabila aku bermaksud menyambung tali silaturrahim dengan mereka, mereka malah memutuskannya, dan jika aku ingin mema’afkan, mereka malah berbuat zholim, dan jika aku ingin bermaksud baik, mereka malah berbuat jahat kepadaku. Apakah aku boleh membalas perbuatan mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, karena kalian semua akan ditinggalkan. Akan tetapi berbuatlah yang lebih utama dari itu dan sambunglah terus tali silaturrahim dengan mereka sebab sesungguhnya pertolongan akan senantiasa menyertaimu selama kamu masih berbuat demikian.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6414
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} telah menceritakan kepada kami {Sa’id} dari {Yusuf} dari {‘Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang menghadiri shalat Jum’at itu ada tiga (macam): orang yang menghadirinya dengan memanjatkan do’a dan dengan melaksanakan shalat, maka itulah orang yang benar-benar memanjatkan do’a kepada Rabbnya, jika Dia menghendakinya Dia akan mengabulkan do’anya dan jika Dia menghendakinya Dia akan menahannya. Dan orang yang menghadiri shalat Jum’at dengan sikap diam, maka memang demikian yang mesti dilakukannya. Dan terakhir orang yang menghadiri shalat Jum’at dengan percakapan, maka hanya itulah yang ia dapatkan.”
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6415
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Anas bin Iyadh} telah menceritakan kepada kami {Abu Hazim} dari {Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}, dia berkata; Aku bersama saudaraku duduk dalam sebuah majlis yang aku berharap dari kebaikan yang banyak, aku dan saudaraku berpaling ketika ada seorang sahabat Rasulullah saw. duduk di salah satu sisi pintu. Maka aku dan saudaraku tidak ingin memisahkan mereka, maka kamipun duduk
Musnad Ahmad | Hadits No. : 6416
Kitab 5 : Musnad Sahabat yang Banyak Meriwayatkan Hadits
Telah menceritakan kepada kami {Anas bin Iyadh} telah menceritakan kepada kami {Abu Hazim} dari {Amru bin Syu’aib} dari {bapaknya} dari {kakeknya}; bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak dikatakan beriman sehingga ia beriman dengan taqdir, yang baik maupun yang buruk.” Abu Hazim berkata: Allah melaknat agama yang aku lebih besar darinya, yaitu; mendustai taqdir.