Telah mengabarkan kepada kami {Abdushamad} telah mengabarkan kepada kami {Abdussalam Abu Thalut} telah mengabarkan kepada kami {Al Abbas Al Jurairy} bahwa Ubaidillah bin Ziyad berkata kepada {Abu Barzah}; “Apakah engaku pernah mendengar Rasulullah saw. menyebutkan sedikit tentang Al Haudh (telaga di Surga)?.” Ia menjawab; “Ya, bukan sekali atau dua kalia saja, barang siapa yang mendustakannya maka Allah tiada akan memberinya minum darinya.”
Telah mengabarkan kepada kami {Abdushamad} dan {Yunus}, keduanya berkata; telah mengabarkan kepada kami {Hammad} yaitu Ibnu Salamah dari {Al Azraq bin Qais} bahwa {Syarik bin Syihab} berkata; -berkata Yunus Al Haritsi; inilah hadits Abdushamad berkata; “Duhh sekiranya aku mendapat seorang dari sahabat Nabi saw. menceritakan hadits dari seorang Khawarij.” Ia berkata; Lalu aku menemui {Abu Barzah} seorang sahabat Nabi saw., aku bertanya; “Ceritakanlah padaku sesuatu yang pernah engkau dengar dari Rasulullah saw. tentang orang Khawarij!.” Ia berkata; “Akan aku ceritakan apa yang aku saksikan dengan kepalaku dan aku dengar sendiri dari Rasulullah saw., bahwa pernah Rasulullah saw. mendapatkan beberapa uang dinar, lalu beliau membagikannya, di situ ada seorang yang berambut sangat lebat atau hitam sedang diantara kedua matanya terdapat bekas sujud, dia mengenakan dua pakaian putih mendatangi Nabi saw. dari arah sebelah kanan beliau sedang ia tidak mendapat bagian apa-apa seraya berkata; “Hai Muhammad, engkau tidak berlaku adil hari ini.” Maka Rasulullah sangat marah sembari bersabda: “Tidak akan kalian dapati seorang yang lebih adil dariku sepeninggalku (beliau ulangi tiga kali). Ia berkata; Ada seorang yang datang dari arah timur ia bercirikan seperti ini; ia membaca Al Qur`an tetapi tidak melebihi kerongkongannya, ia melepaskan agama ini sebagaimana anak panah lepas dari busurnya lalu tidak kembali, ia berkepala botak, ia akan selalu muncul hingga Dajjal pun datang, maka apabila kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah!, karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan penciptaan.” Telah mengabarkan kepada kami {‘Affan} telah mengabarkan kepada kami {Hammad bin Salamah} telah mengkabari kami {Al Azraq bin Qais} dari {Syarik bin Syihab} berkata; Aku berangan-angan untuk bertemu seorang dari sahabat Nabi saw. yang dapat menerangkan padaku tentang khawarij, lalu aku bertemu dengan {Abu Barzah} di hari Arafah di antara beberapa orang sahabatnya, lalu ia sebutkan hadits tersebut.
Telah mengabarkan kepada kami {Abdushamad} telah mengabarkan kepada kami {Hammad bin Salamah} telah mengabarkan kepada kami {Tsabit} dari {Kinanah bin Nu’aim} dari {Abu Barzah} bahwa Julaibib, sudah menjadi tradisi seorang lelaki Anshar dan para sahabat Nabi saw., apabila mereka mempunyai anak perempuan menjanda, maka mereka tidak menikahkan puterinya sehingga Rasulullah menyebutkan hajatnya atau tidak. Suatu hari Rasulullah saw. bersabda kepada seorang lelaki Anshar: “Nikahkanlah aku dengan anak perempuanmu!.” Lalu ia menjawab; “Silahkan, itu kehormatan dan kemuliaan buatku.” Lalu beliau bersabda: “Sungguh aku menginginkannya bukan untukku.” Lalu ia bertanya; “Lalu untuk siapa wahai Rasulullah?.” Beliau bersabda: “Untuk Julaibib.” Ia mengatakan; “Wahai Rasulullah, aku akan bermusyawarah dulu dengan ibunya.” Lalu ia mendatangi istrinya dan mengatakan padanya; “Rasulullah saw. hendak menikahi putrimu.” Istrinya menjawab; “Sungguh kehormatan dan kemuliaan buatku.”Suaminya berkata; “Tetapi bukan untuk beliau, beliau melamarkan untuk Julaibib.” Istrinya berkata; “Apakah Julaibib itu anaknya, apakah Julaibib itu anaknya, apakah Julaibib itu anaknya? (ia mengulanginya dua kali), demi Allah, jangan kau nikahkan putrimu dengan Julaibib.” Ketika ia bangun dan hendak melaporkan keputusan istrinya kepada Rasulullah saw., puterinya berkata; “Siapa yang meminangku kepada kalian?.” Lalu ibunya mengabarkannya. Lalu puterinya itu berkata; “Apakah kalian hendak menolak perintah Rasulullah saw.?, relakanlah aku sungguh beliau tidak akan menyengsarakan aku.” Lalu datanglah ayahnya kepada Rasulullah saw. dan mengabari beliau, ia berkata; “Nikahkanlah ia!.” Lalu Rasulullah saw. menikahkannya dengan Julaibib. Ia Abu Barzah berkata; Lalu Rasulullah saw. berangkat untuk berperang hingga peperangan usai dan semua atas kehendak Allah, lalu beliau bersabda pada para sahabatnya: “Apakah kalian kehilangan seseorang?.” Mereka menjawab; “Kami kehilangan Fulan, kami kehilangan si fulan.” Beliau bersabda: “Lihatlah, apakah kalian kehilangan seseorang?.” Mereka menjawab; “Tidak.” Lalu Rasulullah bersabda: “Tetapi aku kehilangan seseorang, aku kehilangan Julaibib, carilah ia di antara orang-orang yang telah gugur.” Ia berkata; “Lalu mereka mencarinya dan berhasil menemukannya diantara tujuh orang musuhnya yang berhasil ia bunuh kemudian mereka membantainya.” Lalu mereka berkata; “Wahai Rasulullah, ini dia diantara tujuh orang yang mati, mereka berhasil ia bunuh lalu mereka membunuhnya.” Lalu datanglah Rasulullah saw. dan berdiri didekatnya seraya bersabda: “Ia telah membunuh tujuh orang lalu mereka membunuhnya, ia adalah bagianku dan aku dari golongannya.” Lalu Rasulullah saw. memanggulnya dan beliau menguburkannya yang tiada tumpuan kecuali pundak Rasulullah saw. hingga beliau letakkan di liang lahatnya dan tidak disebutkan bahwa ia dimandikan.”
Telah mengabarkan kepada kami {Hajjaj} telah mengabarkan kepada kami {Syu’bah} dari {Sayyar bin Salamah} berkata; Aku menemui {Abu Barzah} bersama ayahku kami menanyakan tentang waktu shalat Rasulullah saw., lalu ia berkata; beliau Rasulullah melaksanakan shalat zhuhur ketika matahari tergelincir, shalat ashar ketika seseorang pulang ke Madinah sedang matahari masih tampak, dan waktu maghrib (Sayyar berkata; “Aku lupa dengannya.”, waktu isya beliau tidak pedulikan, beliau akhirkan hingga sepertiga malam, beliau tidak menyukai tidur sebelum isyal dan berbicara setelahnya, dan beliau shalat subuh hingga jika seseorang selesai dari shalatnya, ia mengetahui bekas tempat duduknya dan beliau membaca di shalat itu antara enam puluh hingga seratus ayat.” Sayyar berkata; “Aku tidak tahu bacaan itu untuk salah satu dari dua raka’at yang ada atau untuk kedua-duanya.”
Telah mengabarkan kepada kami {Ya’la} telah mengabarkan kepada kami {Al Hajjaj bin Dinar} dari {Abu Hasyim} dari {Rufa’i Abul Aliyah} dari {Abu Barzah Al Aslamy} bahwa setiap akhir kali Rasulullah bermajlis dan beliau hendak berdiri beliau berucap: “subhanaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik (Maha suci engkau ya Allah, syukur pada-Mu aku bersaksi bahwa tiada Illah kecuali engkau, aku bermohon ampunan dan bertaubat padamu) Lalu mereka berkata; “Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan suatu ucapan yang engkau belum katakan sebelumnya.” Beliau menjawab: “Itu adalah kafarat (penebus dosa) kalian dalam majelis.”
Telah mengabarkan kepada kami {Abu Kamil} telah mengabarkan kepada kami {Hammad bin Zaid} dari {Jamil bin Murrah} dari {Abil Wadhi} berkata; “Kami dalam sebuah perjalanan bersama Abu Barzah, maka {Abu Barzah} berkata: sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Dua orang yang sedang mengadakan transaksi jual beli selama dalam posisi tawar-menawar (masih bisa memilih) selama belum berpisah.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazaq} telah memberitakan pada kami {Ma’mar} dari {Mathar} dari {Abdullah bin Buraidah Al Aslamy} berkata; Ubaidullah bin Ziyad masih ragu-ragu tentang Al Haudh (telaga di surga) maka dia pun mengutus seseorang utusan untuk menemui Abu Barzah Al Aslamy. Lalu utusan tersebut mendatangi Abu Barzah, sesampainya di sana, para sahabat Ubaidullah bertanya kepada {Abu Barzakh Al-Aslami}; “Amir (pemimpin) kita mengutus para utusan kepadamu untuk menanyakan kepadamu tentang Al Haudh (telaga di surga), apakah engkau pernah mendengar dari Rasulullah saw. tentang hal itu?.” Dia menjawab; “Ya, aku telah mendengar Rasulullah saw. menyebutkannya bahwa barangsiapa yang mendustakannya (Al Haudh) maka Allah tidak akan memberi minum darinya.”
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin sa’id} dari {Syu’bah} telah menceritakan kepada kami {Qatadah} dan {Isma’il bin Ibrahim}; telah mengkabarkan kepada kami {Sa’id} telah menceritakan kepada kami {Qatadah} dari {Zurarah bin ‘Aufa} dari {Imran bin Hushain} radliallahu ‘anhu berkata; “Rasulullah saw. melaksanakan shalat dzuhur, lalu seseorang dibelakangnya membaca; “Sabbihismarabbikal a’la”. Maka setelah beliau selesai melaksanakan shalat, beliau menanyakan: “Siapakah di antara kalian yang tadi membaca; “Sabbihismarabbikal a’la”?. Maka orang tadi menjawab; “Aku!.” Lalu beliau bersabda: “Aku telah mengetahui bahwa sebagian kalian telah menyibukkanku dengannya.” Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} telah berkata kepada kami {Sa’id} dari {Qatadah} berkata; aku telah mendengar {Zurarah bin ‘Aufa} menceritakan dari {Imran bin Hushain} radliallahu ‘anhu -lalu dia menyebutkan hadits yang sama-.
Telah menceritakan kepada kami {Yahya bin Sa’id} dari {Khalid bin Rabah} ia berkata; Aku mendengar {Abu As Sawwar} berkata; “Aku telah mendengar {Imran bin Hushain} radliallahu ‘anhu berkata Rasulullah saw. bersabda: “Sifat malu itu semuanya baik.” Telah menceritakan kepada kami {Waki’} telah menceritakan kepada kami {Khalid bin Rabbah} ia berkata; aku telah mendengar {Abu As Sawwar} berkata; “aku telah mendengar dari {Imran bin Hushain} radliallahu ‘anhu dari Nabi saw. seperti hadits diatas.”
Telah menceritakan kepada kami {Waki’} telah menceritakan kepada kami {Ibrahim bin Thahman} dari {Husain al Mu’allim} dari {Ibnu Buraidah} dari {Imran bin Hushain} radliallahu ‘anhu berkata; “Aku terserang penyakit bawasir, maka aku bertanya kepada Nabi saw. tentang tata cara shalat dalam keadaan sepeti itu.” Lalu beliau mensabdakan: “Shalatlah dengan berdiri, kalau kamu tidak bisa maka dengan duduk dan kalau kamu tidak bisa maka dengan tiduran(berbaring).”