Telah menceritakan kepada kami {Muhammad bin Ja’far} telah menceritakan kepada kami {Syu’bah} dari {Sulaiman} dari {Mundzir Ats Tasuri} dari {para guru mereka} dari {Abu Dzar} berkata, “Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam meninggalkan kami dan tiada burung yang terbang kecuali Rasulullah saw. telah memberitahukan tentang ilmunya.” Telah menceritakan kepada kami {Hajjaj} telah menceritakan kepada kami {Fithr} dari {Mundzir} dari {Abu Dzar} secara makna.”
Telah menceritakan kepada kami {Hajjaj} berkata, telah mengabarkan kepada kami {Syu’bah} dari {Muhajir Abul Hasan} dari bani Taimillah, yakni salah seorang budak mereka, ia berkata, “Sepulang dari mengantar jenazah, kami bertemu dengan {Zaid bin Wahb} ia lalu menceritakan dari Abu Dzar, bahwa ia berkata, “Kami bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sedang dalam perjalanan, lalu seorang mu`adzin hendak mengumandangkan adzan, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Tunggulah sampai dingin (hilang terik panasnya).” Namun mu`dzin itu tetap ingin mengumandangkan adzan, Nabi saw. lalu bersabda: “Tunggulah sampai dingin.” Beliau ulangi perkataan itu hingga tiga kali, Abu Dzar berkata, “Sehingga kami melihat bayangan tempat yang tinggi, lalu beliau shalat bersama kami. Setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya teriknya panas adalah dari hembusan neraka Jahannam, jika panas terlalu menyengat maka laksanakanlah shalat ketika telah dingin.”
Telah menceritakan kepada kami {Hajjaj} dan {Hasyim} keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami {Laits} telah menceritakan kepadaku {Yazid bin Abu Habib} dari {Ibnu Syimasah} bahwa Mu’awiyah bin Khudaij lewat di hadapan {Abu Dzar} yang sedang berdiri di sisi kudanya. Mu’awiyah lalu bertanya kepadanya, “Kenapa kamu merawat kudamu ini?” Dia menjawab, “Sesungguhnya aku menyangka bahwa kuda ini telah dikabulkan do’anya.” Mu’awiyah bertanya, “Lalu apa do’anya binatang?” Abu Dzar menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada satu kudapun kecuali dia pasti berdo’a pada setiap waktu sahur dengan mengucapkan, ‘Ya Allah, Engkau telah titipkan aku pada seorang hamba dan para hamba-Mu, dan Engkau telah jadikan rizkiku melalui tangan dia, maka jadikanlah aku lebih dia sukai dari keluarga, harta dan anaknya’.” (Abdullah) Berkata, bapakku berkata, “Hadits ini ada kesesuaian dengan hadits {Amru bin Al Harits} dari {Ibnu Syimasah}.”
Telah menceritakan kepada kami {Bisyr bin Al Mufadldlal} dari {Khalid bin Dzakwan} berkata, telah menceritakan kepadaku {Ayyub bin Bisyr} dari {Seseorang dari Al Anazi} -dan ia tidak mengatakan ‘Al Ghubari’-, bahwa dia berangkat bersama {Abu Dzar}, dan saat kembali orang-orang berpencar darinya, maka aku pun bertanya, ‘Wahai Abu Dzar, aku bertanya kepadamu tentang beberapa persoalan tentang Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam.” Abu Dzar lalu berkata, “Jika itu termasuk perkara yang dirahasiakan Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam maka aku tidak akan menceritakannya kepadamu.” Aku berkata, ‘Bukan hal yang bersifat rahasia, hanya jika beliau berjumpa dengan seseorang, apabila beliau juga menjabat tangannya? ‘ Abu Dzar berkata, “Sungguh engkau telah bertanya kepada orang yang tepat! Tidaklah beliau bertemu denganku kecuali pasti beliau menjabat tanganku, dan itu bukan hanya sekali. Yang terakhir kalinya adalah ketika beliau mengutus seseorang kepadaku, kemudian aku menemui beliau disaat sakit yang membawanya kepada kematian. Aku dapati beliau sedang berbaring, lalu aku merunduk dan Rasulullah saw. mengangkat tangannya seraya mendekapku.”
Telah menceritakan kepada kami {‘Affan} telah menceritakan kepada kami {Hammad bin Salamh} telah mengabarkan kepadaku {Abul Husain} dari {Ayyub bin Busyair bin Ka’b Al Adawi} dari {seseorang} dari ‘Anazah, bahwa ia berkata kepada {Abu Dzar} sepulang ia dari Syam…lalu ia menyebutkan hadits tersebut. dan dalam hadits tersebut ia menyebutkan, “Apakah Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam menyalamimu bila kalian berjumpa dengann beliau?” Abu Dzar menjawab, “Aku tidak pernah berjumpa dengan beliau, kecuali beliau pasti menyalamiku.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdul Aziz bin Abdushamad Al ‘Ammi} telah menceritakan kepada kami {Abu Imran Al Jauni} dari {Abdullah bin Shamit} dari {Abu Dzar} berkata, “Aku berada di belakang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ketika kami keluar di pinggiran Madinah, beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, shalatlah kamu tepat pada waktunya, jika kamu datang dan imam telah melaksanakan shalat, maka engkau telah menjaga shalatmu. Namun jika kamu datang dan imam belum melaksanakan shalat, maka shalatlah bersamanya, maka shalatmu (bersama Imam) menjadi pahala sunah bagimu dan engkau telah menjaga shalatmu. Wahai Abu Dzar, apa pendapatmu jika semua manusia kelaparan hingga mereka tidak mampu untuk datang ke masjidmu? Atau engkau sendiri pun tidak mampu lagi untuk kembali ke kasurmu karena kelaparan? Lalu apa yang akan kamu lakukan?” Abu Dzar berkata, “Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Bersabarlah. Wahai Abu Dzar, apa pendapatmu jika manusia meninggal hingga rumah mereka adalah kuburan, apa yang akan kamu lakukan?” Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda: “Jauhilah perkara haram dan meminta-minta.” Beliau melanjutkan: “Wahai Abu Dzar, apa pendapatmu jika manusia (banyak yang) terbunuh hingga bebatuan tergenang oleh darah, apa yang akan kamu lakukan?” Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Beliau bersabda: “Hendaklah engkau masuk ke dalam rumahmu.” Aku lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika mereka masuk ke dalam rumahku? ‘ Beliau bertanya: “Kamu bergabung dengan kelompokmu.” Abu Dzar bertanya lagi, “Dan bolehkah aku membawa senjata?” Rasulullah bersabda: “Berarti engkau telah ikut andil dalam huru hara.” Abu Dzar berkata, “Aku lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, lantas apa yang harus aku lakukan? ‘ Beliau menjawab: “Jika engkau takut dengan kilatan pedang (terjadi pertumpahan darah), maka lemparkanlah sebagian kain ke wajahmu, sehingga ia akan pergi dengan membawa dosamu dan dosanya.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazaq} telah mengabarkan kepada kami {Sufyan} dari {Ibnu Abu Laila} dari {Isa} dari {Abdurrahman} dari {Abu Dzar}, dan {Mu`ammal} berkata, telah menceritakan kepada kami {Sufyan} dari {Ibnu Abu Laila} dari {Saudaranya} dari {Bapaknya} dari {Abu Dzar} ia berkata, “Aku bertanya pada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tentang sesuatu hingga aku tanyakan kepada beliau tentang mengusap kerikil, beliau menjawab: “Lakukanlah sekali saja, atau biarkanlah.” Mu`ammal berkata, “Yaitu meratakan kerikil atau mengusapnya.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazaq} telah mengabarkan kepada kami {Sufyan} dari {Dawud bin Abu Hind} dari {Walid bin Abdurrahman Al Jursyi} dari {Jubair bin Nufair Al Hadhrami} dari {Abu Dzar} ia berkata, “Kami berpuasa Ramadan bersama Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam, dan beliau tidak pernah melaksanakan shalat malam bersama kami hingga tersisa tujuh hari terakhir. Beliau lalu melaksanakan shalat malam bersama kami hingga berlalu sepertiga malam. Setelah itu beliau tidak lagi melaksanakan shalat malam bersama kami pada malam keempat, tetapi beliau melaksanakannya bersama kami pada malam berikutnya hingga berlalu setengah malam.” Abu Dzar berkata, “Kami lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sekiranya engkau berkanan untuk shalat bersama kami di akhir sisa malam-malam ini? ‘ Beliau bersabda: “Jika seorang laki-laki shalat bersama imam hingga selesai, maka sisa malamnya akan ditulis dengan pahala shalat.” Kemudian pada malam ke enam beliau tidak shalat bersama kami, beliau shalat bersama kami pada malam ke tujuh.” Abu Dzar berkata, “Beliau memerintahkan keluarganya, dan orang-orang ikut berkumpul, beliau lalu shalat bersama kami hingga kami kawatir akan kehiangan Al falah.” Perawai berkata, “Aku lalu bertanya, “Al Falah itu apa?” Abu Dzar menjawab, “Waktu sahur.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazaq} telah menceritakan kepada kami {Ma’mar} dan {Abdul A’la} dari {Az Zuhri} dari {Abul Ahwash} dari {Abu Dzar} berkata, “Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berdiri shalat sesungguhnya rahmat sedang menyongsongnya, maka janganlah kalian menggerakkan kerikil.”
Telah menceritakan kepada kami {Abdurrazaq} telah mengabarkan kepada kami {Ma’mar} dari {Az Zuhri} dari {Habib} mantan budak Urwah bin Zubair, dari {Urwah} dari {Abu Murawih Al Ghifari} dari {Abu Dzar} ia berkata, “Seseorang datang kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab: “Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.” Orang itu bertanya lagi, “Membebaskan budak yang bagaimana yang paling utama?” Rasulullah menjawab: “Yang paling mahal.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak mempunyainya?” Rasulullah menjawab: “Engkau menolong orang?” orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak bisa?” Rasulullah menjawab: “Kamu jauhkan manusia dari sifat jelekmu, maka itu adalah sedekah yang kau sedekahkan untuk dirimu!”